Pages

Thursday, September 17, 2015

Masuk dan Berkembangnya Agama serta Kebudayaan Hindu–Buddha di Indonesia

Secara geografis, Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera. Dengan didukung melimpahnya kekayaan alam tropis Indonesia, banyak bangsa lain yang membeli berbagai hasil kekayaan alam Indonesia sekaligus juga berjualan berbagai barang dari negeri mereka sehingga menjadi persimpangan lalu lintas dunia. Dengan demikian, terjadilah hubungan dagang dengan dunia luar, terutama dengan India dan Cina.

Orang India diperkirakan telah mengenal Indonesia sejak sebelum Masehi. Hal itu dibuktikan dalam kitab Ramayana terdapat nama Jawadwipa (jawa berarti jawawut atau beras; dwipa berarti pulau). Di samping itu, ada lagi nama Suwarnadwipa (suwarna berarti emas; dwipa berarti pulau). Tentu yang dimaksudkan Jawadwipa adalah Pulau Jawa (karena gudangnya beras), sedangkan yang dimaksudkan Suwarnadwipa adalah Sumatra (karena banyak menghasilkan emas). Perhatian India terhadap Indonesia makin bertambah ketika pada abad ke-2 Masehi, India kekurangan persediaan emas. Hal itu terjadi karena berkurangnya tambang-tambang emas yang ada di India serta terganggunya jalur darat yang membawa emas dari Asia Tengah. Bangsa Yunani–Romawi membayar rempah-rempah serta barang-barang lainnya dari India dengan emas dan perak. Perhiasan manik-manik dari kaca dan batu sebagai barang perdagangan India kemungkinan telah sampai di Indonesia pada abad akhir sebelum Masehi. Hubungan India–Indonesia makin lama makin ramai sehingga melahirkan pusat perdagangan dan pelabuhan di berbagai daerah pantai di Nusantara. Pada abad ke-5 berkembang pusat perdagangan di Sumatra bagian tengah, menyusul Sriwijaya, Gresik, Tuban, dan Jepara.

Dalam berdagang, bangsa Indonesia kemungkinan juga berlaku aktif. Artinya, pedagang Indonesia juga aktif mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang di negeri lain, seperti India dan Cina. Hal itu didasari kemampuan berlayar bangsa Indonesia mengarungi samudera telah dibuktikan sejak lama. Kemampuan berlayar dengan menggunakan perahu sederhana itu digambarkan dengan jelas pada relief Candi Borobudur (850 M).

Hubungan dagang antara Cina dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan (India), Timur Tengah, dan Eropa sebenarnya telah dimulai sejak awal tahun Masehi. Jalur perdagangan di Asia itu pada awalnya melalui daratan yang disebut Jalan Sutra. Disebut Jalan Sutra karena barang utama yang diperdagangkan pada masa itu adalah sutra dari Cina yang terkenal sangat halus. Pada awalnya, Jalan Sutra ini melalui Asia bagian utara. Namun, jalur utara dirasakan kurang aman karena gangguan perampok dan kondisi alam sehingga dialihkan ke jalur tengah. Jadi, jalan perdagangannya meliputi Cina, India, Persia, Mesopotamia, sampai ke Mediterania. Karena biayanya dirasa mahal dan keamanan tetap tidak terjamin jalur perdagangan dialihkan lewat laut. Jalur perdagangan yang melewati laut menyusuri wilayah Indonesia melalui Selat Malaka, Laut Jawa, Selat Makassar, dan Selat Sunda.

Peta pelayaran dan perdagangan pada awal masehi

Bersamaan dengan berkembangnya hubungan dagang, masuk pula kebudayaan India ke Indonesia. Proses masuknya pengaruh kebudayaan India pada umumnya disebut penghinduan oleh para ahli sejarah. Penggunaan istilah penghinduan harus ekstra hati-hati. Hal itu disebabkan pengaruh yang masuk ke Indonesia bukan hanya pengaruh kebudayaan Hindu, tetapi juga pengaruh agama Buddha. Pada kenyataannya, di Indonesia keduanya tumbuh dalam bentuk sinkretisme Syiwa–Buddha.

Pada dasarnya para ahli sejarah membuat dua kemungkinan tentang proses masuk dan berkembangnya kebudayaan India ke Indonesia.

1. Bangsa Indonesia Bersikap Pasif
Teori ini memberi pengertian bahwa bangsa Indonesia hanya sekadar menerima kebudayaan India yang datang ke Indonesia. Pendapat yang mendukung teori ini cenderung melihat bahwa telah terjadi kolonisasi, baik secara langsung maupun tidak langsung dari bangsa India terhadap bangsa Indonesia. Oleh karena itu, diduga kebudayaan India yang berkembang di Indonesia mempunyai sifat dan bentuk seperti di negeri asal.

2. Bangsa Indonesia Bersikap Aktif
Teori ini memberi pengertian bahwa bangsa Indonesia sendiri yang berperan aktif mencari tahu dan mengembangkan kebudayaan India. Hal itu dimungkinkan karena kemampuan bangsa Indonesia yang dapat mengarungi samudera dengan perahu sederhana dapat mencapai India. Bangsa Indonesia tertarik dengan keteraturan dan keunggulan peradaban India sehingga berkeinginan menirunya. Salah satu caranya adalah bangsa Indonesia mengundang para brahmana India ke Indonesia untuk memperkenalkan kebudayaannya.


Sumber : Sh. Musthofa. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan